“Kenapa ya
mba dia1 tuh ga pernah bisa jujur sama aku tentang dia2??”
“Emang
dia2 sebaik apa sih mba??”
“Emang
dia2 sehebat apa sih mba?? Sampai-sampai dia1 rela ngorbanin apa aja buat dia2”
Spechless
saya…
Segitunya
kah perasaan si gadis ini?? ya saya tahu dia amat kecewa dengan dia1 karena
tidak pernah jujur dan terbuka untuk masalah yang satu ini. Masalah yang
sebenarnya bukan masalah besar, tapi cukup rumit untuk dijelaskan apalagi
dijabarkan dengan ilmu aljabar. Hehe. Buat saya masalah percintaan kadang sering
bikin kepala ini sakit, perasaan ini tercabik-cabik dan fikiran ini melenceng jauh.
Entah itu love story-nya orang lain atau love story saya sendiri, ya yang pasti
kalau pengalaman pribadi saya tentang cinta sih ga pernah ada ceritanya indah
tuh, pasti kelam semua [hhh…menghela nafas sesaat].
Untuk case
kali ini si gadis yang merupakan adiknya sahabat saya sekaligus pacarnya teman
saya dan orang yang selalu cemburu sama teman saya juga [nah lo
bingung,,bingung deh lo] sekarang sedang merasa bahwa hubungannya sangat tidak
sehat. Karena selalu dibayangi rasa ketidaknyamanan atas ketidakJUJURan dan
ketidakMENGERTIan dia1 akan perasaannya. Gadis ini pernah merasa sakit hati karena
pada satu ketika dibohongi dia1 yang diam-diam menemui dia2 di satu kesempatan
tanpa konfirmasi sebelumnya. Entah awal mulanya bagaimana?? Tapi yang jelas
memang kejadian waktu itu bikin dia trauma dan benar-benar sakit hati pada dia1
dan dia2.
Hmm menurut
saya cemburu itu wajar koq dalam hal berpacaran [ciye elah,,sok banget gw
padahal pacaran aja kga pernah ;p] sebatas rasa cemburu itu dengan kadar yang
normal dan dalam kondisi yang aman. Maksudnya cemburu boleh aja asal jangan
cemburu buta, dan tau siapa yang perlu dicemburui dan siapa yang ga ‘penting’
dicemburui. Gitu loch. Dalam case si adek ini sih sebenernya wajar kalau dia
sampai cemburu begitu karena memang ya dia1 emang rada-rada, lagian ngapain
juga harus keep silent kalo cuma mo nemuin dia2? Bilang aja jujur napah kalau
emang mau kontak atau mau pergi atau mau ketemu atau apalah yang berhubungan
sama si dia2 itu. Ga perlu ditutup-tutupin, lagian yang namanya kebohongan
lambat laun akan ketauan juga koq. Saya ga tau ya, sebenernya ada motif apa
dibalik sikap NGUMPETNYA itu? Tapi bentar, si dia2 pernah ngomong sih sama saya
kalau si dia1 itu CEMEN, PENGECUT dan GA GENTLE gitu. Saya sih sampai sekarang
juga ga ngerti apa maksudnya, tapi sepertinya sedikit-sedikit saya mulai
menyadari bahwa……… [ga mau berasumsi aahh]. Lepas dari soal cemen-cemenan, yang
pasti si gadis ini ternyata mikirnya sampai jauh loh, dia jadi berasumsi bahwa dia1
itu berfikir kalau pacarnya [si gadis] akan mengapa-apain si dia2 kalau sampai
ketahuan mereka saling kontak it’s mean kalau si gadis berfikir apakah dirinya
segitu jahatnya kah?? Segitu sadisnya kah?? Segitu kuatnya kah sampai-sampai
dia1 berfikir kalau dia akan menganiaya dia2 [sadis,,,*hiperbolis mode on*].
Ribet euy nyeritainnya.
“Kenapa
sih mba, dia1 pengen banget ngejagain dia2 dan bilang kalau dia2 salah satu
dari berapa orang di dunia ini yang akan selalu dilindungi?”
“Kenapa
sih mba, aku yang pacarnya tapi dia ga bisa terbuka untuk ngomongin segala
sesuatu dan lebih memilih ngomong sama dia2?”
“Kenapa
sih mba, harus ada dia2 diantara aku dan dia1?”
dan masih
banyak lagi…
Terus
terang saya sih belum bosan dan Insyallah ga akan pernah bosen denger cerita si
adik kecil ini, karena saya senang koq jadi Problem Solver untuk orang lain.
Karena ini juga bukan untuk yang pertama kali koq saya jadi pendengar yang
baik , penyejuk hati ataupun penasehat sejati *halah lebay
deh* tapi lebih tepatnya sih tong sampah. Haha. Walaupun terkadang saya bingung mencari
siapakah Problem Solver untuk diri ini?? Saya kadang suka kasian sama gadis
ini, sering banget nyakitin diri sendiri dengan hobinya menangis. Padahal
nangis juga ga akan ngerubah apapun bukan?? Makanya saya cuma pengen kasih
spirit sama dia, kasih kekuatan, syukur-syukur bisa ngasih nasehat yang akan
membuat semua menjadi lebih baik. Amien.
Pertama-tama
dia minta nasehat saya untuk gimana caranya bisa menghilangkan rasa cemburunya
sama si dia2 dan sekaligus membuang prasangka buruk yang bikin sakit hati
terus-menerus [penyakit hati tuh]. Saya bilang “kamu tau ga apa rasanya
dicemburuin?? Cobain deh sekali-kali ntar pasti berasa”, saya minta dia untuk
menempatkan diri sebagai si dia2 yang notabenenya si tersangka atau si yang
dicemburui. Kemudian baru saya jelaskan bagaimanakah rasanya menjadi sosok yang
seperti itu, “tau ga dek rasanya?? Ga enak banget, nyakitin, rasanya seperti
makan buah simalakama, sama sakitnya sama yang cemburu, kita ga pernah
ngelakuin hal-hal yang negative, ga melakukan kejahatan, dan ga berbuat hina
tapi berasa ada dosa di depan mata, ada orang yang sakit hati karena kita, ada
orang yang benci sama kita, ada orang yang marah sama kita bahkan mungkin akan
memaki-maki [lebay] dan ada orang menderita karena kita. Padahal kita ga
ngapa-ngapain?? Rasanya lebih sakit dari yang dicemburui, rasanya lebih rendah
dari yang hina dan lebih nista dari yang kotor” wuuu…… Ya karena pengalaman
pribadi maka lancarlah saya berfalsafah *tsah*.
Mungkin
cuma dari situ gadis itu mulai mengerti kali ya, bahwa ga ada fungsinya dia
cemburu sama si dia2 karena hubungan mereka pure cuma temenan/sahabatan tanpa
embel-embel lainnya. Lagipula si dia2 sudah punya belahan jiwanya koq, jadi ga
ada alasan juga kalau masih cemburu, kecuali saya. Jelas karena masih tetap
setia menjomblo ga jelas, wajar kalau dicemburui banyak orang. Kemudian si
gadis sudah mulai menata hati, dimulai dengan membuang jauh-jauh negative
thinking-nya, rasa cemburunya, rasa sakit hatinya dan mulai menjalin komunikasi
yang baik dengan si dia2. Percaya ga percaya bahwa komunikasilah yang dapat meruntuhkan
dinding antara si A dan si B yang ibaratnya si pencemburu dan yang dicemburui
agar lebih bisa bertukar fikiran antara satu sama lain. Tau isi otak
masing-masing gitu deh bahasa gampangnya.
“Aku udah
coba mba untuk bisa baik sama dia2 walaupun dalam hati masih sakit hati banget
sama masalah yang dulu, tapi kenapa dia1 ga bisa ngeliat niat baik aku dan
malah nutup-nutupin kalau ada segala sesuatu yang berhubungan sama dia2”
“Emang aku
dianggep apa mba??”
Nah kalo
pertanyaan yang terakhir bukan kompetensi saya untuk ngejawab :)
“Kenapa
sih dia1 ga pernah bisa jujur sama aku?”
“Kenapa
sih dia1 ga bisa ngertiin perasaan aku?”
“Kenapa
sih dia1 selalu ngebohongin aku untuk masalah dia2?”
Kayanya
pertanyaan itu pantasnya diajukan ke dia1 deh…Karena kalau ke aku sama-sama ga
ketemu jawabannya.
Rasanya
kalian perlu komunikasi dua arah dulu deh baru memperluas jaringan jadi tiga
arah..hehehe…antara aku, kamu dan dia [gitu pribahasanya].
Aku
sebenernya niat banget untuk mencari tahu ada apakah gerangan, akan tetapi dia1
ini orangnya super cuek dan sedikit sensitive kalau untuk masalah beginian. Aku
mungkin bukan orang yang menurutnya tepat untuk diajak diskusi untuk hal ini.
Pernah aku coba tanya, tapi jawabannya datar dan terkesan ga ada respon, so
close case aja kalo gitu. Tunggu kesempatan yang lain ajah saat dia benar-benar
siap dan enak untuk diajak bicara. Terus terang sayapun memang bukan orang yang
teramat dekat dengan dia1 karena semula yang dekat dan yang sering bertukar
fikiran dengan dia1 adalah dia2, namun apakah dengan cara meminta pertolongan
dia2 akan menyelesaikan masalah yang terjadi antara dia1 dan si gadis?? Saya
rasa itu bukan cara yang tepat…tapi ga tau juga deh, perlu dicoba ga yah??
So buat si
gadis sekaligus adik kecil, sabar ya, aku cari timing yang tepat untuk sharing
sama dia1 itu tapi inget ga boleh cemburu loch,,,hehehe *piss yo*
Dia1 : pacar si gadis yang notabenenya teman saya
Dia2 :
teman/sahabat wanitanya dia1 atau si yang dicemburui yang notabenenya teman
saya [juga].
fuuuuhhh....untung ada keterangan dia1 dan dia2.sempet bingung-e.
Posted by: krishnawan | March 3, 2008 01:23 AM
selamat datang kembali
Posted by: 'eNon eNie' | March 5, 2008 08:58 PM