“Kenapa kamu harus datang lagi ketika
perasaan ini mulai stabil, ketika aku baru mau memulai segalanya dari awal,
ketika aku benar-benar mau melupakan kamu dan segalanya?? Kenapa baru kasih
kejelasan sekarang, kenapa harus aku duluan juga yang mulai?? Kenapa harus ada
pertanyaan dulu sebelum kebenaran itu terkuak?? Dan kenapa harus lewat media ini
kamu tahu perasaanku?? Kenapa, kenapa, kenapa?? Dasar orang aneh…”
Sampai capek saya harus tanya kenapa..??
Dan..penyakit saya mulai kumat [pusing lagi
boo,,kalo inget nih orang], semoga ga migrain atau sakit yang berlebihan lagi
[kerjaan masih numpuk neeh, masih banyak peta-peta yang harus saya
petakan..hehe], dan membuat saya tidak nyenyak tidur di malam harinya [euhgg kan jadi ngantuk di kantor] hiks..hiks
“Kalau kemarin kamu bilang, kamu
sumber penyakitku, kayanya emang bener deh, soalnya kalau aku ingat kamu
perasaan kepala jadi sakit, detak jantung jadi ga normal lagi, ga bisa tidur
nyenyak, jadi irasional, jadi menye-menye, tapi untungnya ga marah-marah mulu
sih. Jadi kesimpulannya kayanya emang kamu sumber penyakitku”
Case Close
Bisa ga sih kita membenci orang semudah membalikan
telapak tangan?? [mungkin telapak tangan yang ada piring di atasnya kali ya??].
Rasanya hampir setengah mati [ih lebay] saya berusaha untuk membenci dirinya
agar perasaan ini menjadi lebih baik. Seperti katanya, “bencilah aku, jika itu
membuatmu lebih baik”. Namun nyatanya tidak semudah itu, bisa saja saya sumpah
serapah, caci memaki dan hina mengdina-i dia tapi ternyata hati ini ga sanggup.
Selama ini perasaan saya ke dia tulus, niat saya juga baik, walaupun pada
akhirnya semua itu akan berakhir dengan cara yang mengenaskan [hiper..]. Jadi
sepertinya usaha significant yang
saya lancarkan akhir-akhir ini berasa sia-sia. Padahal udah mau ngerasa
baik-baik ajah, sehat-sehat ajah, normal-normal ajah, dan tenang-tenang ajah.
Tapi ternyata koq ya dia datang lagi.
Hhhh…[menghela nafas panjang]
Mungkin kalau kemarin itu saya ga kasih statement yang jutek, dia juga ga akan
buka suara. Entah karena apa?? Emang pembawaannya yang setengah aneh itu atau
sok-sok an bersibuk ria. Biarlah hanya dia dan Tuhan yang tahu, i don’t mind. Walaupun saat ini saya
sudah tahu apa alasan dia itu, tapi sampai detik ini saya juga ga bisa nyerna
dengan baik, otak saya lagi postpone
untuk sementara waktu ini. Mungkin si otak latah kali ya, ikut-ikutan si hati,
atau malah mereka bersinkronisasi atau malah berkolaborasi. Ahh entahlah. Tapi
yang jelas sosok ini cuma seonggok tubuh berbalut perasaan hampa *sambil nyanyi
lagunya Ari Lasso*.
“Aku cuma mau kamu jujur, jujur sama
perasaanmu, jujur sama dirimu sendiri. Ga lebih, karena sampai saat ini aku
masih ga ngerti jalan pikiranmu kemana. Kalau kamu ga tega ngeliat aku terpuruk
dalam tempurung, ya kenapa terus jadi begini?? Bisa kan ngomong
baik-baik, bisa kan ga ngilang
dengan jejak, bisa kan kasih penjelasan yang masuk akal"
Saya ga sambil nyanyi Jujur-nya Radja loch,,coz I hate the band.. :p
Sampai saat ini saya masih mencoba bertahan untuk
menunggu niat baik dari si dia, entah dalam bentuk apapun. Entah dia sadar atau
ga, kalau saya masih nunggu, saya ga mau ambil pusing. Nunggu niat baik tuh
maksudnya, niat baik dia datang atau lewat media apapun untuk menceritakan segala
sesuatunya, mengclearkan semuanya [kalau dia bilang itu beda versi, versi dia
dan versi temannya], mengutarakan keinginan dan perasaannya, dan mencari jalan
terbaik untuk semuanya. Banyak banget ya permintaan saya, ya iyalah [masa ya
iya donk] karena saya ga mau membenci orang sampai dibawa kubur [dasyat]
maksudnya saya ga mau mengubur seseorang dalam hati ini. Saya juga ga mau
masalah ini mengambang begitu saja, kecuali memang itu yang dia kehendaki. Saya
cuma bisa pasrah terima kenyataan dan keadaan, dan sekali lagi hanya dia dan
Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Iya, aku memang mau kamu hilang,
menghilang untuk selama-lamanya tapi entah dalam kehidupan ini atau dalam hati
ini. Kalau kamu masih mau datang, untuk apa lagi?? Jika itu hanya akan melukai
hatiku, jangan datang dan kembali kalau kamu cuma ingin semua ini berakhir
dengan luka. Sakit tau, perih tau, ngerasain ga sih??”
Walau saya sudah susah payah mengerti kecuekan dia
selama ini, walaupun saya sudah mencoba mengerti idealisme-nya dan segala
tetek-bengek-nya [ups maaf, bukan jorok] tapi sepertinya dia tetap saja buta
mata hati. Terlalu angkuh untuk mengakui, terlalu sok berksatria untuk
mengalah, dan terlalu eegghhhh susah diungkapkan dengan kata-kata.
Ya sudahlah,,mungkin begini lebih baik
“Oya ada satu pertanyaan lagi yang
belum sempat ditanyakan, nanti deh kalo sempet, ga etis mo di tulis lewat media ini”
Buat teman-teman saya :
Thanks for the
attentions, I know that only you are who will keep me cool in down, keep me hold
in you’re arms and keep me strong event I’m very shock and drop. Walaupun cerita saya ini
sudah menjadi rahasia umum [berasa seleb gitu dech..hehe] tapi tetap saja
terima kasih yang terkira untuk orang-orang yang ada disekitar saya. Jarak dan
waktu yang memisahkan kita tak menjadi halangan untuk saling mengisi, mengerti
dan tetap menemani di kala waktu-waktu yang dibutuhkan. Terima kasih untuk
supportnya, untuk doanya, untuk perhatiannya, untuk waktunya, untuk comment di blognya dan untuk
pulsanya..hehehe…I love u all my friends…
[Akhirnya kamu nengok blog-ku juga?? Secara ya
dirimu kan super-sibuk-sekali]
Thanks my
blog,,,being interface communication between us ;)